Kamis, 16 Juni 2016

Hubungan Religiulitas Dengan Perilaku Sosial

A. Pengertian Religiulitas

          Ada beberapa istilah untuk menyebutkan agama, antara lain religi, religion (Inggris), religie (Belanda), dan dien (Arab). Kata religiom (Inggris) dan religie (Belanda) berasal dari bahasa induk dari kedua bahasa tersebut, yaitu bahasa latin "religio" dari akar kata "relegare" yang berarti mengikat (kahmad, 2002). Menurut Cicero (Ismail, 1997), relegare berarti melakukan sesuatu perbuatan dengan penuh penderitaan, yakni jenis laku peribadatan yang dikerjakan berulang-ulang dan tetap. Religiulitas seringkali diidentikkan dengan keberagamaan. Religius diartikan sebagai seberapa jauh pengetahuan, seberapa kokoh keyakinan, seberapa pelaksanaan ibadah dan kaidah dan seberapa dalam penghayatan atas agama yang dianutnya. Bagi seorang muslim, religiulitas dapat diketahui dari seberapa jauh pengetahuan, keyakinan, pelaksanaan dan penghayatan atas agama islam (Fuad Nashori dan Rachmy Diana Mucharam, 2002).

          Hawari (1996) menyebutkan bahwa religiulitas merupakan penghayatan keagamaan dan kedalaman kepercayaan yang diekspresikan dengan melakukan ibadah sehari-hari, berdoa, dan membaca kitab suci.

          Ancok dan Suroso (2001) mendefinisikan religiulitas sebagai keberagamaan yang berarti meliputi berbagai macam sisi dan dimensi yang bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah), tapi juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. 

          Berdasarkan uraian diatas, bisa disimpulkan bahwa religiulitas adalah kedalaman penghayatan keagamaan seseorang dan keyakinannya terhadap adanya tuhan yang diwujudkan dengan mematuhi perintah dan menjauhi larangan dengan keikhlasan hati dan dengan seluruh jiwa dan raga.

B. Perilaku Sosial

          Menurut kamus besar bahasa Indonesia, perilaku adalah cara berbuat atau menjalankan sesuai dengan sifat yang layak bagi masyarakat. (Purwadarminta, 1997 : 436). Sosial adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan masyarakat. (Purwadarminta, 1997 : 853).

      Dalam bukunya psikologi Bimo Walgito (1978 : 15) perilaku adalah aktivitas individu. Sedangkan pengertian perilaku dalam arti luas yaitu perilaku yang nampak dan perilaku yang tidak menampak, sebagaimana diketahui perilaku yang ada pada individu/organisme itu tidak timbul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat dari stimulus yang diterima oleh organisme yang bersangkutan baik stimulan eksternalmaupun stimulan internal.

          Menurut Skiner (1976 :17) di buku psikologi sosial dibedakan menjadi 2 yaitu:
  1. Perilaku yang alami yaitu perilaku yang dibawa sejak organisme dilahirkan yang berupa refleks - refleks dan insting-insting.
  2. Perilaku operan yaitu perilaku yang dibentuk melalui proses belajar.
Perilaku sosial sebagai realitas sosial ditandai sedikitnya oleh tiga corak pengungkapan yang universal. Menurut Hendropuspito (1983), tiga corak pengungkapan tersebut meliputi: pengungkapan teoritik berwujudkan sistem kepercayaan, pengungkapannya praktiknya sebagai sistem persembahan, serta pengungkapan sosiologiknya sebagai suatu sistem hubungan masyarakat, yang pada kenyataannya merupakan suatu sistem yang memilki peranan penting bagi kehidupan masyarakat. Beberapa peran atau fungsi secara sosiologi dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Fungsi edukatif yang terkait dengan upaya pemindahan dan pengalihan nilai norma keagamaan.
  2. Fungsi agama sebagai penyelamat. Hal ini dipandang ketika agama memberi rasa kedamaian, ketenangan, ketabahan dalam menghadapi berbagai persoalan sulit yang dihadapi oleh manusia.
  3. Fungsi agama sebagai kontrol sosial. kontrol sosial yang dimaksud adalah seluruh pengaruh kekuatan-kekuatan yang terjaga terbinanya pola-pola kelakuan dan kaidah-kaidah sosial milik masyarakat.
C. Hubungan Religiulitas dengan Perilaku Sosial

          Menurut Sudirgo Wibowo (1995 : 122) Intensitas adalah suatu dorongan, kebiasaan, dan perbuatan untuk menggambarkan perbedaan hasil dari suatu perbuatan. Bagi seseorang perilaku sosialnya dipengaruhi oleh faktor lingkungannya sendiri baik lingkungan keluarga, teman pergaulan ataupun lingkungan masyarakat sekitarnya. Sehingga seseorang akan berperilaku dengan baik atau positif apabila lingkungannya memberikan pengaruh yang positif pula.

          
 



          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar